Mengenal Tradisi Besuare: Cara Hangat Masyarakat Lahat Merawat Silaturahmi di Era Digital

WARTADESAKU.CO.ID — Sumatra Selatan acapkali diidentikkan dengan kemegahan Jembatan Ampera atau gurihnya pempek Palembang. Namun, jika kita bersedia melangkah lebih jauh, sekitar 215 kilometer dari pusat ibu kota provinsi, kita akan menemukan Kabupaten Lahat. Daerah yang dijuluki Bumi Seganti Setungguan ini, tidak hanya kaya akan batu bara sebagai lumbung energi, tetapi juga menyimpan “energi sosial” yang luar biasa melalui warisan budayanya.

Bagi generasi muda atau mereka yang tinggal di kota-kota besar, perjalanan menuju Lahat mungkin terasa melelahkan. Menempuh waktu 4 hingga 5 jam dengan mobil, atau 3 jam menggunakan jalur kereta api, melintasi rute yang berkelok. Namun, begitu kaki berpijak di bawah bayang-bayang keindahan Bukit Serelo yang ikonik, rasa lelah itu seketika menguap, berganti dengan kehangatan khas masyarakat lokal.

Lahat, dengan 24 kecamatan yang tersebar dari wilayah perkotaan hingga pelosok desa seperti Kikim, Merapi, hingga Tanjung Sakti, memiliki satu kekayaan tidak berwujud yang kian mahal di era modern ini. Kekayaan itu bernama Besuare.

Lainnya :  Kisah Pemudi dari Desa Peninggalan Kabupaten Muba Jadi Volunteer Piala Dunia 2026 di AS

Apa Itu Tradisi Besuare?

Secara harfiah, kata Besuare berakar dari kata suare, yang dalam bahasa Indonesia berarti suara. Namun, bagi masyarakat Kabupaten Lahat, Kota Pagar Alam, dan Kabupaten Empat Lawang (yang secara kultural sering disebut sebagai wilayah Besemah), Besuare bukan sekadar mengeluarkan bunyi dari mulut.

Besuare adalah sebuah institusi sosial. Ia adalah tradisi mengundang kerabat, tetangga, dan pemuka adat secara langsung, bertatap muka, dari rumah ke rumah, menjelang sebuah perhelatan besar.

Syafran Jali, seorang penggiat budaya Besemah yang akrab disapa Mang Syafran, menjelaskan esensi mendalam dari warisan leluhur ini. “Besuare berarti menyampaikan undangan secara lisan kepada pihak yang diamanatkan. Undangan bisa disampaikan langsung atau melalui perwakilan keluarga tertentu,” ujarnya saat menjelaskan esensi tradisi ini, dalam siaran Behusek di Pro 4 RRI Palembang, Rabu, 14 Januari 2026 yang lalu.

Menurut Mang Syafran, sapaan akrabnya, tradisi ini membutuhkan persiapan waktu yang matang, terutama jika skala acara yang akan digelar tergolong besar. “Kalau hajatan besar, Besuare bisa dilakukan sejak sebulan sebelumnya. Undangan terutama ditujukan kepada keluarga besar dan kerabat dekat,” tambahnya.

Lainnya :  Cetak Sejarah Baru, Kebijakan Transmigrasi Kini Bergeser dari Bagi Lahan ke Serap Investasi

Utusan Khusus dan Kopelan: Secarik Kertas Pengikat Janji

Menengok ke belakang, Besuare memiliki catatan sejarah tata cara yang sangat elok. Pada masa lalu, ketika teknologi komunikasi belum menyentuh pelosok desa, undangan disampaikan menggunakan kertas yang dibawa oleh utusan khusus. Utusan tersebut berkeliling dari rumah ke rumah, demi menyampaikan amanat langsung kepada warga yang diundang.

Di era modern, jejak historis utusan khusus itu bertransformasi menjadi kehadiran langsung sang pemilik hajat, atau yang dikenal dengan sebutan Ghuma Meraje. Dua atau tiga minggu sebelum hari bahagia tiba, mereka akan mendatangi tetangga dan keluarga. Saat mengundang, tuan rumah akan menyertakan sebuah kertas pengingat yang akrab disebut Kopelan. Kertas ini berisi informasi sederhana mengenai tanggal, tempat, dan waktu acara.

Di zaman ketika kertas undangan mewah dengan tinta emas jamak ditemui, Kopelan dalam tradisi Besuare justru tampil bersahaja. Mengapa? Karena esensi utama dari Besuare bukanlah pada kemewahan fisiknya, melainkan pada dialog, tatap muka, dan ketulusan saat mengetuk pintu rumah orang lain.

Bagi banyak masyarakat Besemah, menerima kedatangan Ghuma Meraje yang melakukan Besuare, dipandang sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga dan kerabat yang diundang. Di sana ada prosesi ngobrol santai, saling menanyakan kabar, hingga doa bersama yang mengalir spontan di ruang tamu. Ada ikatan batin yang bertaut, sesuatu yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh kepraktisan teknologi.

Lainnya :  Jawa dan Sumatra Jadi Pulau Terbanyak Miliki Jumlah Desa di Indonesia

Tantangan Zaman: Remaja, Digitalisasi, dan Jarak Sosial

Kita harus jujur melihat realitas hari ini. Remaja dan generasi muda saat ini tumbuh dalam ekosistem digital yang serba instan. Mengundang orang ke acara pernikahan, cukup dengan membuat satu desain grafis, lalu disebarkan ke grup-grup obrolan dalam hitungan detik. Praktis, murah, dan cepat.

Namun, sadarkah kita apa yang hilang dari kepraktisan itu? Yang hilang adalah rasa kemanusiaan dan kehangatan hubungan antar manusia. Undangan digital sering kali terasa dingin dan impersonal. Seseorang bisa dengan mudah mengabaikannya, karena merasa tidak “disentuh” secara personal.

Di sinilah letak urgensi mengapa tradisi Besuare harus tetap dijaga oleh lintas generasi:

  • Bagi Remaja & Dewasa Muda: Tradisi ini mengajarkan etika berkomunikasi, kesopanan, mentalitas menghargai proses, dan bagaimana cara menghormati orang yang lebih tua di dunia nyata.

  • Bagi Orang Tua & Lansia: Tradisi ini menjadi ruang untuk merawat ingatan kolektif, dan memastikan bahwa nilai gotong royong tidak punah ditelan zaman.

Lainnya :  ID FOOD dan Koperasi Sumatra Barat Ekspor Gambir Rp11 Miliar

Merawat Bersuare Bersama-Sama

Mempertahankan Besuare di tengah gempuran modernisasi, jelas bukan perkara mudah. Kabupaten Lahat yang luas, dari kawasan Gumay Talang hingga Suka Merindu, memiliki tantangan geografisnya sendiri. Namun, selama masyarakat Besemah masih memegang teguh prinsip Seganti Setungguan, yang berarti saling menjaga, senasib sepenanggungan, tradisi ini akan tetap bernyawa.

Menjaga tradisi bukan berarti kita harus anti teknologi. Kita bisa mengawinkan keduanya. Generasi muda bisa mendokumentasikan prosesi Besuare ini ke media sosial atau media online seperti wartadesaku.co.id, untuk menjadikannya konten yang edukatif, sementara praktik fisiknya tetap dijalankan dengan intim di dunia nyata.

Besuare adalah bukti otentik bahwa masyarakat Sumsel, khususnya Lahat, adalah masyarakat yang menempatkan manusia dan tali silaturahmi di posisi tertinggi. Mari kita pastikan, suara-suara hangat dari tradisi Besuare ini tidak akan pernah meredup, hari ini, esok, hingga generasi-generasi yang akan datang. (ohs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *