Kisah Pemudi dari Desa Peninggalan Kabupaten Muba Jadi Volunteer Piala Dunia 2026 di AS

HEADLINE, SOSOK38 Dilihat

WARTADESAKU.CO.ID, ATLANTA — Keputusan yang diambil oleh Nurul Ramadhan (27), mengundang decak kagum sekaligus rasa heran dari orang-orang di sekitarnya. Pemudi asal Desa Peninggalan, Kecamatan Tungkal Jaya, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) ini, rela terbang belasan ribu kilometer menuju Amerika Serikat.

Tujuan perjalanannya yang sangat jauh itu, hanyalah untuk satu hal, yaitu mendedikasikan diri sebagai tenaga sukarelawan atau volunteer dalam ajang sepak bola internasional paling bergengsi, Piala Dunia tahun 2026. Banyak rekan sejawat maupun warga lokal di Amerika Serikat mengira Nurul sudah lama menetap atau bekerja di Negeri Paman Sam.

Mereka pun terkejut ketika mengetahui bahwa Nurul murni datang langsung dari sebuah wilayah pedesaan di Sumsel demi pesta bola dunia tersebut.

“Mereka sampai bilang, masa cuma karena Piala Dunia kamu datang jauh-jauh dari Indonesia untuk jadi volunteer? Saya bilang, ini bukan cuma volunteer, bagi saya ini pencapaian luar biasa. Saya yang berasal dari daerah bisa sampai ke sini,” ungkap Nurul Ramadhan.

Lainnya :  Cetak Sejarah Baru, Kebijakan Transmigrasi Kini Bergeser dari Bagi Lahan ke Serap Investasi

Nilai Budaya Volunteerisme Global dan Dampak Sosial

Menjadi bagian dari ribuan volunteer internasional di ajang sekelas Piala Dunia, bukanlah hal yang mudah. Proses seleksi ketat, harus dilalui oleh setiap kandidat dari berbagai belahan dunia, mulai dari pemenuhan berkas administrasi, uji kemampuan bahasa, hingga sesi wawancara mendalam mengenai kesiapan mental serta pemahaman lintas budaya.

Bagi pemuda asal daerah seperti Kabupaten Muba, kesempatan ini menjadi ruang pembuktian bahwa keterbatasan geografis bukan halangan untuk bersaing di panggung global. Pengalaman berinteraksi dengan jutaan suporter, delegasi tim nasional, serta panitia dari berbagai negara, akan membentuk karakter kepemimpinan yang adaptif dan inklusif.

Dampak sosial dari pencapaian Nurul ini, diharapkan mampu menjadi pemantik motivasi bagi generasi muda di Bumi Serasan Sekate lainnya, untuk berani mengejar mimpi internasional dan aktif dalam kegiatan kerelawanan.

Lainnya :  Mengenal Tradisi Besuare: Cara Hangat Masyarakat Lahat Merawat Silaturahmi di Era Digital

Berawal dari Program Beasiswa di Palembang

Keberhasilan Nurul menginjakkan kaki di Amerika Serikat, tentu tidak terjadi dalam semalam. Jauh sebelum terpilih menjadi bagian dari Piala Dunia tahun 2026, fondasi kemampuan bahasanya diasah saat ia masih menempuh bangku perkuliahan di Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang.

Titik balik perjalanannya dimulai ketika Nurul lolos untuk mengikuti program Pemuda Bangkit Berkarya. Program tersebut merupakan program kepemudaan yang diselenggarakan oleh ConocoPhillips, salah satu perusahaan multinasional yang beroperasi di wilayah Kabupaten Muba.

Melalui program itu, Nurul bersama sejumlah mahasiswa penerima beasiswa lainnya, berkesempatan mendapatkan pelatihan intensif bahasa Inggris selama enam bulan di Kota Palembang. Pembekalan bahasa asing dan pengembangan karakter inilah, yang kemudian menjadi modal utama dirinya untuk percaya diri mendaftar serta lolos dalam seleksi volunteer internasional. (ohs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *